Inilah 3 Sindrom Iritasi Usus Besar Sering Terjadi

Inilah 3 Sindrom Iritasi Usus Besar Sering Terjadi

Sindrom iritasi usus besar berdasarkan data telah mempengaruhi 6 hingga 8 persen orang yang ada di seluruh dunia. Kondisi seperti ini melibatkan bentuk atau frekuensi buang air besar dan sakit perut pada bagian bawah. Inilah berbagai gejala umum yang bisa Anda temukan dari sindrom ini.

1. Kram dan Nyeri

Menurut sebuah majalah kesehatan, sakit perut menjadi gejala paling umum dan faktor kunci pada diagnosis. Secara umum, otak dan usus Anda bekerja sama untuk mengontrol pencernaan. Hal ini terjadi melalui saraf, hormon, dan sinyal yang dilepaskan oleh bakteri baik yang hidup di dalam usus.

Pada kasus sindrom ini, sinyal kerjasama kemudian terdistorsi yang menyebabkan ketegangan tidak terkoordinasi dan menimbulkan rasa sakit pada bagian otot saluran pencernaan. Nyeri ini biasa terjadi pada perut bagian bawah maupun seluruh perut. Terdapat kemungkinan kecil pada perut di bagian atas. Nyeri tersebut biasa berkurang sesudah buang air besar.

Dengan modifikasi diet rendah FODMAP, yakni jenis karbohidrat seperti Fermentable Oligo, Disakarida, Monosakarida, dan Poliol, diyakini mampu mengurangi rasa sakit serta gejala lain yang timbul. Diet ini menyarankan Anda untuk menghindari atau mengurangi makanan yang mengandung sumber karbohidrat dengan struktur kimia pendek.

Perawatan lain yang bisa dilakukan yaitu menggunakan pelemas usus seperti peppermint, hipnoterapi, dan perilaku kognitif. Bila nyeri tidak merespon perubahan yang dilakukan, maka ahli gastroenterologi bisa membantu Anda menemukan obat khusus untuk meredakan gejala nyeri yang timbul.

2. Diare

Sindrom iritasi usus besar lain yang timbul adalah diare. Gejala ini menjadi satu dari tiga jenis gangguan lain. Kondisi ini ini telah memberikan pengaruh besar dari sepertiga pasien yang telah mengalami sindrom tersebut.

Berdasar pada sebuah penelitian pada 200 orang dewasa, telah ditemukan bahwa pasien dengan penyakit ini didominasi diare yang mempunyai rata-rata 12 kali buang air besar setiap minggunya atau dua kali dari jumlah orang dewasa yang tidak terkena sindrom.

Transit usus yang dipercepat dengan adanya sindrom, bisa menyebabkan keinginan untuk buang air besar secara tiba-tiba. Sejumlah pasien menggambarkan sumber stres yang signifikan. Bahkan, menghindari sejumlah situasi sosial untuk menghindari diare secara tiba-tiba. Selain itu, jenis tinja diare cenderung encer dan cair, bahkan mengandung lendir.

3. Sembelit

Ternyata sindrom ini tidak hanya menyebabkan diare, tetapi juga sembelit. Sindrom ini didominasi oleh adanya konstipasi sebagai gejala paling umum. Bahkan, telah mempengaruhi hampir 50 persen penderitanya.

Perubahan komunikasi antara otak dan usus mampu mempercepat dan memperlambat waktu transit normal dari tinja. Sehingga, saat transit melambat, usus menjadi menyerap lebih banyak air dari tinja. Inilah yang menyebabkan terjadinya sembelit.

Konstipasi didefinisikan menjadi buang air besar bisa kurang dari tiga kali dalam seminggu. Sembelit yang fungsional sebagai gambaran sembelit kronis yang tidak bisa dijelaskan oleh timbulnya penyakit lain. Hal ini bahkan tidak terkait dengan sindrom dan bersifat sangat umum.

Itulah tiga gejala umum dari sindrom usus besar yang perlu Anda ketahui. Anda bisa mendapatkan berbagai artikel kesehatan menarik lain dengan mengunjungi situs Orami. Segera buka laman tersebut dan dapatkan informasi menarik lainnya.